Senin, 07 November 2011

ketika hujan bersemayam di hati




Aktifitasku tiap sore ialah berdiri di samping jendela rumahku dan menyaksikan jutaan tetesan air yang turun ke bumi. Ya, hampir tiap hari hujan turun, padahal bulan ini seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Mungkin ini akibat dari - yang sering dikatakan oleh orang-orang dengan rentetan gelar dibelakangnya- sebuah fenomena Global Warming. Aku ingat bahwa salah satu ciri utama dari global warming ialah perbedaan musim yang cukup ekstrem. Bisa saja di tempat aku berdiri ini hujan turun dengan derasnya, tetapi bisa jadi jauh di seberang sedang kering kerontang yang menerpa. Ini semua adalah akibat ulah manusia yang tidak menghargai keseimbangan ekosistem. Dengan seenaknya orang menebangi ribuan pohon, membuang sampah sembarangan, dan memakai bahan bakar yang boros. Akibat menebang pohon maka akan terjadi run off yang besar di permukaan tanah, sehingga menimbulkan banjir. Akibat membuang sampah sembarangan maka terjadi penyumbatan di saluran pembuangan dan menimbulkan banjir pula. Rumit sekali bagiku mengaitkan antara aktifitas manusia dengan fenomena alam yang sederhana, yang sering kita sebut hujan ini.
Bagiku hujan hanya sebuah persoalan sederhana. Bagaimana alam mengajarkan kepada kita tentang menyuburkan sesuatu yang gersang. Menghidupkan sesuatu yang mati. Kita lihat dari proses hujan itu sendiri. Air hujan berasal dari penguapan air laut. Uap-uap air ini kemudian berkumpul di titik ketinggian tertentu dan mengalami –istilahnya orang pinter- kondensasi, yang pada akhirnya kita menyebutkan sebagai gumpalan awan. Awan-awan ini kemudian terbawa angin. Terbang sekehendak hati. Apabila awan-awan ini merasakan beban yang terlalu berat karena membawa sekian puluh ribu liter air, maka awan ini menjatuhkannya dalam bentuk butiran-butiran. Hal inilah yang kemudian dikenal orang sebagai peristiwa hujan.
Uniknya, karena peristiwa kimia tertentu, air laut yang tadinya asin berubah menjadi tawar dengan hujan. Dan dengan air inilah, hujan menghidupkan kembali tanah-tanah gersang disebuah tempat nun jauh disana. Tanah-tanah itu bisa kembali ditanami dengan berbagai macam tanaman yang dapat membuat kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Hujan ini pulalah yang menyuplai kebutuhan air sebagian besar tanaman dan tumbuhan yang ada di bumi ini. Ya, begitulah hujan memainkan peranannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar